Review Film Bidadari Terakhir


Siapa bilang film Indonesia bergenre drama tidak layak ditonton? Sebuah film berjudul “Bidadari Terakhir” yang rencananya akan dirilis pada tanggal 10 September 2015 semakin membuktikan bahwa industri perfilman tanah air sedang berbenah menjadi lebih baik.  Tidak menutup kemungkinan, film ini akan merengkuh kesuksesan karena diminati banyak penonton. Bidadari Terakhir diangkat dari novel berjudul sama karya Agnes Davanoar.

Film Bidadari Terakhir mengisahkan kisah cinta tidak biasa antara seorang remaja SMU bernama Rasya (Maxime Bouttier) dengan  seorang pekerja seks komersial (PSK) bernama Eva (Whulandary Herman).  Awalnya Rasya yang dalam cerita ini masih berumur 17 tahun adalah seorang pemuda SMU yang  mengagumi kesuksesan ayahnya yang bernama Tama (52). Ayahnya dianggap sebagai figur yang layak dicontoh karena karirnya yang begitu cemerlang sebagai seorang PNS.  Karena itu, Rasya menjadi anak yang terus belajar dengan tekun di sekolahnya dan terus berharap suatu ketika bisa menjadi seperti sang ayah. Segala aktivitas yang tidak mengarah kepada tujuannya dianggapnya tidak penting dan diabaikan olehnya.  Itu juga yang menjadi alasan untuk tidak memperdulikan Maria sang adik kelas yang mencintainya.

Review Film Bidadari Terakhir

Tetapi semuanya berubah semenjak Hendra yang merupakan teman sekolahnya mengajak Rasya ke tempat prostitusi. Rasya mengikuti ajakan Hendra dan sekedar duduk menunggui kawannya itu hingga pulang. Ketika menunggu, Rasya bertemu dengan Eva, seorang pelacur berusia 21 tahun. Eva memiliki kepribadian yang jauh berbeda dengan Rasya. Rasya adalah tipe orang yang penuh dengan perencanaan dan punya segudang cita-cita sedangkan Eva adalah wanita yang berprinsip “Hidup untuk Hari Ini.” Artinya dia tidak terlalu memusingkan masa depan atau esok hari. Apa yang terjadi hari ini dilakukan dengan senang, tanpa beban.

Menurut Rasya, Eva teman bicara yang menyenangkan. Dirinya diam-diam tertarik kepada Eva.  Semenjak bertemu dengan Eva, Rasya sering pergi ke tempat prostitusi itu hanya sekedar ingin berbicara dengan Eva.  Rasa cinta Rasya kepada Eva berbeda dari laki-laki kebanyakan yang datang padanya. Cinta Rasya tulus dan Rasya merasa menjadi orang yang lebih baik dibandingkan sebelumnya.  Rasya hidup bebas “Hidup untuk Hari Ini” tanpa belenggu keinginan yang seperti dulu.

What's Your Reaction?

Keren Keren
0
Keren
Terinspirasi Terinspirasi
0
Terinspirasi
Terhibur Terhibur
0
Terhibur
Unik Unik
0
Unik
Suka Suka
0
Suka
Biasa aja Biasa aja
0
Biasa aja

Review Film Bidadari Terakhir

log in

Become a part of our community!

reset password

Back to
log in